Kesiapan Indonesia dalam Menuju Transformasi Digital

Share This Post

Penulis: Norman Erikson Suli, CPLM

Kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang masih terjadi dalam pertumbuhan ekonomi global, termasuk di Indonesia pada tahun 2023, berdampak signifikan pada perusahaan dari segi komersial dan operasional. Perkembangan teknologi menjadi akselerator yang mampu mengatasi tantangan ini. Sistem dan teknologi informasi berperan sebagai penyelaras untuk menjaga keseimbangan antara supply dan demand dalam rantai pasok. Pentingnya optimalisasi operasional dari hulu sampai hilir menuntut peran kunci teknologi. Respon terhadap kondisi VUCA dapat diperkuat dengan penerapan skema digital transformasi oleh semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam rantai pasok di Indonesia.

Volatility merupakan perubahan ekonomi yang cepat dan meningkatkan risiko terhadap pengelolaan rantai pasok. Untuk menghadapi tantantangan ini, diperlukan sebuah penetapan visi yang kuat yang didukung oleh misi dari perusahaan. Sementara itu, uncertainty adalah keadaan ketika permintaan atau pasokan tidak jelas, yang mengakibatkan ketidakakuratan analisis dan dan keterlambatan pengambilan keputusan. Situasi ini dapat direspon dengan memiliki pemahaman menyeluruh tentang kondisi yang terjadi dari titik hulu sampai hilir rantai pasok. Complexity merupakan kesulitan dalam rantai pasok yang dapat mempengaruhi produktivitas ataupun menyebabkan kesalahan dalam pengambilan keputusan. Untuk menghadapinya, penting untuk menciptakan kejelasan melalui transparansi dan real time update mengenai proses di rantai pasok, mulai dari pemasok sampai kepada konsumen. Kemudian, ambiguity merupakan keadaan timbulnya multi pemahaman baik dari sisi sebab atau akibat atas permasalahan yang terjadi, sehingga mengurangi kepercayaan dalam setiap pengambilan solusi di rantai pasok. Kondisi ini dapat diatasi dengan adanya agility dari setiap stakeholder di area rantai pasok, sehingga dapat fleksibel dan responsif di dalam menangani problem yang ada. Respon atas keadaan VUCA dapat ditunjang dengan skema digital transformasi yang dapat dilakukan oleh setiap stakeholder yang terlibat dalam skema rantai pasok di Indonesia.

Konferensi yang diselenggarakan oleh Association for Supply Chain Management (ASCM) pada 11-13 September 2023 di Amerika Serikat menekankan pentingnya  adaptasi  pada era digitalisasi. Dalam konteks ini, Digital Supply Chain, Big Data and Analytics serta Artificial Intelligence merupakan tiga fokus utama  yang harus diperhatikan dalam menghadapi tahun 2024. Hal ini selaras dengan data dari Production Management Institute, yang menyatakan bahwa prioritas perkembangan rantai pasok di tahun 2024 secara khusus melibatkan sistem informasi dan teknologi. Tentu saja untuk mencapai transformasi digital, perusahaan pada level global harus melalui beberapa tahap peningkatan terutama pada sisi rantai pasok. 

Tabel 1. Prioritas Development Supply Chain 2024
Sumber: Production Management Institute, 2023)

Namun sebelum perusahaan berupaya untuk meningkatkan supply chain-nya, terdapat beberapa hambatan yang perlu diperhatikan. Survei yang dilakukan oleh Gartner menyatakan bahwa proses Digital Transformation dalam ruang lingkup rantai pasok mengalami empat hambatan utama, yaitu Resistance to Changes from Decision Stakeholders, Limited Availability of Suitable Technology, Unavailability of Adequate Suitable Skills, dan Lack of Supply Chain Integration (Gartner, 2022). Hal ini menunjukkan  bahwa aspek Manusia (People), Teknologi dan Bisnis Proses perlu menjadi perhatian dalam persiapan menuju Digital Transformation di perusahaan. Aspek-aspek tersebut menjadi indikator bahwa persiapan transformasi digital perlu dilakukan secara komprehensif untuk mendapatkan hasil yang optimal. Di sisi lain, berdasarkan pernyataan dari Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani, permasalahan yang dialami pada struktur rantai pasok di Indonesia merupakan salah satu penyebab kenaikan laju inflasi (Republika, 2022). Hal ini terjadi karena konteks pada rantai pasok akan berdampak pada peningkatan harga jual produk dan secara langsung mempengaruhi kondisi nilai inflasi di Indonesia. Selain itu, fakta berupa penilaian dari World Bank 2023 menyatakan bahwa pencapaian Indonesia dari sisi Logistics Performance Index (LPI) yaitu mengalami turun peringkat sebanyak 17 posisi dari posisi 46 di tahun 2018 menjadi posisi 63 di tahun 2023 (The World Bank, 2023).

Tabel 2. Logistics Performance Index (Indonesia)
Sumber : The World Bank, 2023

Hasil pada Tabel 2 menggambarkan bahwa 2 dimensi penilaian pada Customs dan Infrastructure mengalami peningkatan, namun 4 dimensi pada International Shipment, Logistics Competence, Tracking & Tracing dan Timeliness mengalami penurunan. Jika melihat hasil tersebut, peran sistem informasi dan teknologi dalam skema Digital Transformation dapat membantu mengoptimalkan kegiatan pada bagian logistik, khususnya pada dimensi Tracking & Tracing, Timeliness, hingga International Shipments. Solusi ini juga didukung oleh pernyataan dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Bapak Luhut Binsar Pandjaitan terkait  perlu adanya optimalisasi dalam digitalisasi logistik Indonesia dan hal ini merupakan tanggung jawab seluruh pihak baik dari pemerintah maupun stakeholder logistik pelabuhan (Liputan6.com, 2023). Sektor logistik di dalam rantai pasok merupakan area yang penting untuk diperhatikan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Gambar 2,  sektor transportasi dan pergudangan mencapai 14,74% (YoY) pada kuartal ketiga (Q3) di 2023, yang mana menjadikannya sektor dengan pertumbuhan tertinggi dibanding sektor lainnya. Melalui sektor transportasi dan pergudangan, implementasi skema transformasi digital dapat dimulai untuk mendukung perbaikan kondisi sektor rantai pasok di Indonesia. Langkah ini tidak hanya akan mengoptimalkan pencapaian target pada setiap level perusahaan tetapi dan juga secara langsung  berkontribusi pada pemulihan kondisi sektor tersebut.

Gambar 1. Pertumbuhan PDB Indonesia Berdasarkan Lapangan Usaha 2023
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2023

Salah satu metode manajemen strategi yang bisa dipertimbangkan untuk meningkatkan supply chain dalam menuju transformasi digital adalah Business Model Canvas (BMC). Metode ini diperkenalkan oleh Alexander Osterwalder dari Swiss di tahun 2005. BMC berfungsi membantu merumuskan ide dan konsep perusahaan untuk mencapai target perubahan yang efektif dan efisien. Dalam konteks Digital Transformation yang membutuhkan suatu pemetaan atas perkembangan perusahaan, maka konsep BMC dapat dijadikan salah satu metode yang relevan. Metode BMC menggambarkan  ide perkembangan perusahaan dengan berfokus pada  kebutuhan konsumen, yang mana terdiri dari 9 elemen penting yaitu Key Partner, Key Activities, Key Resources, Value Proposition, Customer Relationship, Channel, Customer Segments, Cost Structure dan Revenue Stream (Sabri et al., 2023).

Business Model Canvas hadir sebagai metode yang memberikan highlight kepada manajemen untuk dapat memetakan setiap lini untuk dalam mendukung perkembangan bisnis. Menurut penelitian yang dilakukan Piontek (2022), poin penting dibahas pada BMC untuk mensinergikan kepada 3 pilar yaitu Corporate, Business, dan Operational Strategy. Corporate Strategy menyelaraskan visi, portofolio bisnis serta pertimbangan terhadap lingkungan sekitar di dalam menjalankan bisnis perusahaan. Business Strategy membahas aktivitas perusahaan di market untuk mempertahankan atau meningkatkan serta mengelola dinamika yang ada di dalam situasi ekonomi bisnis. Selain itu, operational strategy membahas mengenai arahan kepada setiap elemen di perusahaan sehingga dapat menjalankan dan mencapai target perusahaan. Ketiga hal ini tentunya dapat terjawab dengan pemetaan rencana bisnis melalui 9 elemen yang terdapat pada metode BMC. Konteks ini juga secara langsung akan mendukung adanya 4 faktor pendorong dari internal dan 4 faktor pendorong dari eksternal di dalam mengimplementasikan proses Digital Transformation di lini bisnis perusahaan.

Kajian ini juga mendukung kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2020-2024, dimana pemerintah telah mencanangkan pengembangan dan pemerataan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia melalui departemen terkait (Kementerian PPN/Bappenas, 2019). Hal ini berarti skema pelaksanaan Digital Transformation yang dilakukan oleh perusahaan terutama di sektor logistik (transportasi dan pergudangan) dengan bantuan metode Business Model Canvas akan berjalan searah dengan perencanaan pemerintah. Sinergi yang terjadi antara sisi perusahaan dan pemerintah tentu akan mengakselerasi proses implementasi aspek Value Proposition yang telah ditetapkan melalui metode BMC. Overview yang dijelaskan pada BMC akan membantu untuk meminimalkan setiap tantangan dan mensukseskan skema Digital Supply Chain di Indonesia. Semoga perbaikan pencapaian Logistics Performance Index (LPI) di Indonesia juga dapat terbantu secara tidak langsung dengan adanya sinergi dari sisi perusahaan swasta dan pemerintah terkait setiap proses yang ada guna mendukung tercapainya skema Digital Transformation

Norman Erikson Suli, CPLM

Norman Erikson Suli, CPLM

Norman ialah profesional yang telah melalui 13 tahun pengalaman kerja di sisi logistics service provider. Beliau memiliki pengetahuan tinggi mengenai sektor land/sea transport, warehouse, exim, dan system development. Kini, ia merupakan Senior Business Development Manager di EMKL Niaga Logistics. Norman juga telah menyelesaikan studi Magister Manajemen Teknologi (SCM) di SIMT Institut Teknologi Sepuluh Nopember, setelah menempuh studi Sarjana Teknik Industri di Universitas Indonesia.

More To Explore