Hilirisasi bagi Ekonomi Indonesia

Share This Post

Opini ditulis oleh: Prema Nurseta, M.A., CSCA, CPLM

Hilirisasi merupakan suatu istilah yang semakin banyak terdengar belakangan ini. Namun sayangnya, belum banyak yang memahami konsep hilirisasi ini dan dampaknya apabila Indonesia berhasil menerapkannya. Penerapan hilirisasi di Indonesia memiliki peran penting untuk mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045, karena program ini menjadi strategi kunci bagi negara berkembang yang memiliki sumber daya alam melimpah untuk meningkatkan perekonomiannya. Selama bertahun tahun, Indonesia hanya mengandalkan ekspor bahan mentah yang memiliki nilai yang rendah. Dengan menerapkan hilirisasi, nilai ekspor Indonesia akan meningkat dan memberikan keuntungan tambahan yang lebih diluar aspek ekonomi, yang berdampak positif bagi masyarakat Indonesia. 

Hilirisasi Batu Bara
Hilirisasi Batu Bara (Sumber: Kementerian ESDM)

 

Hilirisasi dalam Perspektif Supply Chain

Bagi saya, isu hilirisasi ini cukup menarik untuk dikupas dari sudut pandang rantai pasok (supply chain). Hilirisasi, berasal dari kata hilir, memiliki konsep seperti aliran sungai yang memiliki hulu (awal aliran sungai itu berasal) dan hilir (bagian akhir dari sungai). Dalam rantai pasok/supply chain juga terdapat konsep hulu-hilir, dimana semua produk jadi (finished good) berasal dari produk mentah (raw material) dan antara proses mengubah produk mentah menjadi produk jadi, terdapat beberapa aktivitas yang menambah nilai (value added activity). Jadi, hilirisasi adalah proses pengembangan nilai tambah dari suatu produk atau komoditas dengan cara mengolahnya lebih lanjut sehingga menghasilkan produk yang lebih kompleks atau bernilai lebih tinggi. 

Contoh hilirisasi dapat dilihat pada pembuatan baterai untuk kendaraan listrik. Untuk merancang dan memproduksi baterai kendaraan listrik, dibutuhkan beberapa bahan mentah seperti lithium, manganese, cobalt, graphite, besi, dan nikel. Logam-logam tersebut diolah, diproses, dan dibentuk menjadi baterai. Pada pembuatannya, nikel menjadi bagian yang paling penting. Hal ini dikarenakan semakin banyak penggunaan nikel, maka baterai kendaraan listrik akan semakin bertenaga dan bisa meningkatkan jarak berkendara. (Source: The Nickel Institute, March 2023) 

Program hilirisasi yang aktif diterapkan semenjak masa presiden Joko Widodo ini merupakan strategi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang dimiliki oleh Indonesia. Hingga kini, Presiden Jokowi menegaskan bahwa program hilirisasi masih akan dilanjutkan dan bahkan ditargetkan untuk bisa lebih besar lagi kedepannya. Saya sangat setuju dengan program hilirisasi ini karena manfaatnya yang besar bagi Indonesia, beberapa diantaranya: 

1. Meningkatkan devisa negara

Indonesia terkenal dengan sumber daya alamnya yang melimpah. Namun, apabila sumber daya ini hanya diekspor secara mentah, maka nilainya akan sangat rendah atau murah. Sebaliknya jika sumber daya alam ini dapat diolah terlebih dahulu sebelum diekspor, maka nilainya akan lebih tinggi. Contohnya, harga nikel mentah saat ini adalah USD 19,040 atau IDR 293,3 juta per kg. Sedangkan harga satu baterai mobil listrik berkisar antara IDR 200 hingga 700 juta. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa harga baterai mobil listrik biasanya setengah dari harga mobilnya. Oleh karena itu, dalam berbagai acara internasional, Presiden Joko Widodo, kerap menyebutkan tentang melimpahnya cadangan nikel Indonesia dan menarik investor untuk memproduksi baterai kendaraan listrik di Indonesia. 

Selain nikel, pemerintah juga mendorong hilirisasi beberapa sumber daya alam lainnya yang dimiliki Indonesia. Menurut informasi dari Menteri Investasi dan Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, larangan ekspor komoditas mentah (sebagai salah satu realisasi program hilirisasi) berdampak positif bagi negara, karena berhasil meningkatkan ekspor produk berbahan dasar besi dan baja menjadi USD 27,8 miliar di tahun 2022, sedangkan pada tahun 2017, sebelum adanya larangan ekspor, ekspor produk besi dan baja Indonesia hanya menyampai USD 3,3 miliar.

2. Multiplier effect

Multiplier effect atau dampak berganda, adalah aktivitas ekonomi berupa pengeluaran pemerintah seperti investasi dan belanja, investasi dari pihak swasta, atau pembelian properti oleh individu, yang dapat menyebabkan reaksi berantai yang meningkatkan perputaran ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung. Apabila program hilirisasi ini berhasil dilakukan dengan skala yang lebih besar nantinya dapat memantik reaksi ekonomi dalam masyarakat dan meningkatkan perekonomian. Dalam perspektif rantai pasok, dampak berganda ini sangat menguntungkan karena investasi pada salah satu rantai, akan berpengaruh positif pada rantai disekitarnya. 

Salah satu implementasi hilirisasi adalah dengan mendirikan pabrik baru. Dampak langsung dari pembukaan pabrik baru ini termasuk terciptanya lapangan pekerjaan di daerah tersebut, kemungkinan adanya masyarakat sekitar pabrik yang membuat toko kelontong dan menyewakan kamar kos atau rumah kontrakan untuk karyawan baru. Secara tidak langsung, hal ini juga dapat meningkatkan peluang lain di daerah tersebut, seperti sektor pariwisata, pendidikan dan sebagainya.

3. Meningkatnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia

Seperti yang sudah dijelaskan, hilirisasi adalah aktivitas penambahan nilai pada suatu produk sehingga nilainya menjadi lebih tinggi. Penerapan hilirisasi dapat menjadi pendorong utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ketika program hilirisasi ini berhasil, maka akan membawa manfaat dalam peningkatan pengetahuan bagi masyarakat Indonesia, baik itu skala kecil hingga besar. Untuk mendirikan pabrik pengolahan produk mentah menjadi produk jadi, pemerintah akan mendorong investasi dalam riset tentang pengolahan produk mentah menjadi produk bernilai tinggi. Selain itu, diperlukan teknologi canggih yang membutuhkan tingkat literasi tinggi untuk mengoperasikannya. 

Dalam kasus ini, ada dua opsi yang dapat dipertimbangkan. Pertama, para ahli dapat dikirim negara maju untuk belajar (solusi jangka panjang). Kedua, dapat dilakukan perekrutan pekerja asing yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk bekerja di pabrik baru (solusi jangka pendek). Langkah kedua ini, seharusnya tidak dipandang secara negatif dengan menganggap pemerintah pro-asing. Sebaliknya, ini justru menjadi kesempatan dan motivasi bagi masyarakat Indonesia untuk mempelajari kompetensi yang dimiliki oleh pekerja asing dan mengembangkannya, sehingga mereka bisa menjadi lebih siap untuk bekerja di sektor yang membutuhkan keterampilan tinggi.

Namun, apakah infrastruktur Indonesia mampu menunjang hilirisasi?

Program hilirisasi ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya alam yang melimpah. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, diperlukan beberapa aktivitas aktivitas lainnya yang menambah nilai (value added activity). Dari sudut pandang investor, mereka mempertimbangkan fasilitas infrastruktur yang memudahkan operasional bisnis mereka. Alasan krusial mengapa infrastruktur sangat penting karena berkaitan dengan efisiensi dan efektivitas rantai pasok/supply chain yang dimiliki oleh Indonesia. Mulai dari fasilitas untuk mengakses area dengan sumber daya mentah, transportasi barang dari lokasi A ke lokasi B, mengelola resiko, hingga mendistribusikan produk akhir yang telah dikelola baik secara domestik atau ekspor. Aspek ini dapat dilihat dengan indikator seperti keberadaan rute perjalanan, moda transportasi, biaya yang dibutuhkan, dan kecepatan dan ketepatan waktu tempuhnya. Pemerintah Indonesia harus bisa membuat rancangan yang mengintegrasikan proses rantai ini tentunya. 

Namun, hilirisasi bukanlah tugas yang mudah, dan melibatkan tantangan-tantangan yang perlu dipertimbangkan seperti kualitas sumber daya manusia, regulasi bisnis, proses birokrasi. Pemerintah sangat perlu memperhatikan hal tersebut untuk dapat menunjang keberhasilan program hilirisasi. Maka dari itu, apabila program hilirisasi dapat diteruskan dan ditingkatkan bukan tidak mungkin Indonesia Emas 2045 dapat terwujud.

Penulis:
Picture of Prema A.V Nurseta, M.A, CSCA, CPLM

Prema A.V Nurseta, M.A, CSCA, CPLM

Prema adalah lulusan Sarjana Manajemen Rantai Pasok dari University of Wollongong dan Magister Manajemen dari Maastricht School of Management dengan pengalaman kerja profesional pada manajemen rantai pasokan dan logistik, terutama dalam distribusi dan gudang. Prema memiliki pemahaman yang jelas tentang Logistik dan Manajemen Strategis, serta sertifikasi CSCA, CPLM dari ISCEA dan CSCP dari APICS. Saat ini, Prema bekerja sebagai Analis Rantai Pasokan di Medtronic (Belanda) sejak September 2023, sebelumnya bekerja sebagai Koordinator Rantai Pasokan dan Pergudangan di AAEON Europe (Belanda) pada Maret 2022, Perencana Material di Philip Morris International (Indonesia) pada September 2021, dan Controller Gudang di PT Sayap Mas Utama (Indonesia) pada September 2018.

More To Explore