Distribusi Vaksin Pfizer Disebut sebagai Tantangan Logistik Raksasa, Bagaimana Bisa?

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Belum lama ini, berita gembira terkait vaksin Pfizer—hasil kolaborasi dengan perusahaan bioteknologi Jerman BioNTech, telah menjadi salah satu jenis vaksin yang digunakan di Indonesia. Siti Nadia Tarmizi, selaku juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, mengungkapkan apabila Pfizer telah tiba di Indonesia dan didistribusikan ke lima provinsi pada bulan September lalu.

Namun, tahukah Anda? Vaksin Pfizer rupanya membutuhkan penanganan khusus terutama pada proses penyimpanan dan juga distribusinya. Bahkan penyaluran vaksin corona tersebut dianggap sebagai operasi logistik raksasa yang sangat menantang bagi para pelaku logistik di bidang kesehatan. Lantas, seperti apa bentuk tantangan yang harus dihadapi oleh pelaku logistik dalam mendistribusikan vaksin Pfizer ini? Berikut penjelasan lengkapnya.

Vaksin corona Pfizer wajib disimpan pada suhu super dingin

Kerap disebut lebih kompleks dari vaksin lainnya, Pfizer perlu ditransportasikan sekaligus disimpan pada lemari pendingin dengan suhu minus 70 derajat Celcius. Yang berarti suhu ini setara dengan suhu terendah di Antartika!

Tidak hanya itu, vaksin corona ini bahkan hanya dapat bertahan selama beberapa hari di ruangan pendingin. Dengan adanya keharusan untuk menyimpannya dalam suhu yang sangat rendah serta daya tahan yang singkat mengharuskan jenis vaksin ini untuk segera digunakan. Kondisi tersebut menyebabkan proses pengiriman vaksin Pfizer menjadi pekerjaan logistik yang sangat berat.

Distribusi vaksin menjadi operasi logistik raksasa

Dilansir dari BBC, Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock mengakui apabila transportasi vaksin Pfizer dan BioNTech hingga sampai ke masyarakat termasuk tantangan operasi logistik raksasa. 

Vaksin corona Pfizer disalurkan dari pabrik-pabrik dengan pengiriman jalur udara dan darat. Tetapi sebelum diangkut ke pusat kesehatan, vaksin perlu ditempatkan di ruang penyimpanan terlebih dahulu. Namun, kendala terbesar justru terletak pada proses ini. Hal ini dikarenakan sebagian besar pusat kesehatan tidak memiliki teknologi yang memadai untuk menyimpan vaksin jenis tersebut. 

Namun kabar baiknya, sejumlah perusahaan logistik besar telah menyatakan komitmen mereka untuk terlibat dalam distribusi vaksin demi mengatasi pandemi Covid-19. Misalnya UPS, FedEx dan DHL yang sudah berinvestasi jutaan dolar pada pembangunan fasilitas baru di pusat distribusi mereka yang khusus dirancang sebagai ruang penyimpanan vaksin. Dengan dilengkapi sensor termal dan mesin pendingin khusus, vaksin Pfizer dapat disimpan dengan suhu kurang dari -80°C.

Disamping itu, Pfizer juga menyediakan tas khusus yang dilengkapi dengan perangkat es kering berisi karbon dioksida padat yang bisa menjaga suhu pada titik rendah dan juga sensor GPS. Kemasan itu disiapkan dengan volume ruang penyimpanan paling banyak 5.000 dosis selama 10 hari, asalkan tetap ditutup.

Readers, itu tadi beberapa tantangan utama yang harus dihadapi oleh para pelaku logistik dalam pendistribusian vaksin di seluruh dunia. Meski begitu, tenaga logistik telah berhasil mengupayakan semaksimal mungkin sehingga vaksin Pfizer dapat sampai diberikan kepada masyarakat.


Referensi :
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-54918813 https://www.dw.com/id/transportasi-vaksin-covid-19-jadi-kerja-logistik-raksasa/a-55565806

https://nasional.kompas.com/read/2021/09/16/21461061/16-juta-vaksin-pfizer-tiba-di-indonesia-didistribusikan-ke-5-provinsi.

More To Explore