5 Hambatan Koordinasi dalam Supply Chain

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Dalam rantai pasok, tidak sekali dua kali peringatan mengenai kinerja koordinatif antara pihak satu dengan yang lain kerap ditekankan. Meskipun koordinasi merupakan faktor paling penting untuk mencapai keberhasilan alur rantai pasok, hal itu tidak selalu mudah itu untuk dilakukan tanpa hambatan. Nyatanya dalam rantai pasok, terdapat berbagai kendala yang menghambat koordinasi itu sendiri. Kendala-kendala ini mengarah kepada distorsi, keterlambatan informasi, dan variabilitas dalam rantai pasok. Maka dari itu, perlu adanya ketelitian dan kesadaran penuh agar memudahkan untuk mengidentifikasi adanya hambatan. Dengan begitu, tindakan-tindakan untuk mengatasi permasalahan dan membantu koordinasi secara tepat dapat segera dilakukan. Hambatan utama koordinasi dalam rantai pasok dibagi menjadi lima kategori, antara lain :

Insentif

Hambatan ini dapat meningkatkan variabilitas sehingga mengurangi keuntungan rantai pasok. Hambatan insentif terbagi menjadi dua jenis, antara lain:

  1. Target lokal dalam tahapan rantai pasok
    Pemberian Insentif yang hanya fokus pada dampak lokal dari hasil tindakan dalam pengambilan keputusan menyebabkan total keuntungan rantai pasok tidak maksimal. Keputusan pembelian berdasarkan memaksimalkan keuntungan pada satu tahap rantai pasokan mengarah pada kebijakan pemesanan yang tidak memaksimalkan keuntungan rantai pasokan.
  1. Insentif tenaga penjualan
    Insentif tenaga penjualan yang tidak terstruktur dengan benar merupakan hambatan yang signifikan terhadap koordinasi dalam rantai pasok. Situasi ini terjadi ketika produsen mengukur penjualan dari kuantitas penjualan kepada distributor atau pengecer (sell-in) bukan kuantitas yang dijual ke pelanggan akhir (sell-through). Keputusan-keputusan seperti ini meningkatkan variabilitas dalam pola pesanan.

Pengelolaan Informasi

Hambatan pemrosesan informasi terjadi ketika informasi permintaan terdistorsi saat bergerak di antara berbagai tahapan yang menyebabkan peningkatan variabilitas pesanan dalam rantai pasok. Contohnya seperti, peramalan berdasarkan jumlah pesanan dan bukan permintaan konsumen langsung. Karena tidak adanya akses langsung kei konsumen, produsen cenderung menerima distorsi informasi dari retailer. Informasi atau data yang dialirkan pada tahapan rantai pasok ini rentan mengalami distorsi sehingga menghasilkan keputusan yang memicu fluktuasi. Sehingga, transparansi atau keterbukaan informasi antara tahap satu dengan tahap rantai pasok lainnya sangat penting dan patut diperhatikan baik-baik.

Operasional

Hambatan operasional mengacu pada proses pemesanan hingga pemenuhan pesanan tersebut. Saat perusahaan memesan ukuran lot dalam jumlah yang lebih banyak dibanding ukuran lot saat munculnya permintaan, maka variabilitas pesanan pun meningkat. Akan tetapi, hal ini berakibat pada aliran pesanan yang tak menentu.
Pada saat ada salah satu rantai yang melakukan “permainan” yang mengakibatkan pabrik tidak mengetahui permintaan pasar sebenarnya, maka terdapat potensi terjadinya salah satu dari dua jenis dampak yang berbeda. Satu, adanya kekurangan (shortage) atau kelebihan stok di pasaran sehingga mengakibatkan kekacauan di downstream. Dua, adanya penimbunan pada salah satu tahapan rantai pasok sehingga menyebabkan permintaan downstream meningkat.

Harga

Kebijakan penetapan harga untuk suatu produk dapat menyebabkan peningkatan variabilitas pesanan. Salah satu contohnya yaitu saat adanya diskon kuantitas yang menghasilkan lot besar. Selain itu, fluktuasi harga yang berasal dari promo dan diskon jangka pendek yang ditawarkan oleh produsen juga mendorong retailer untuk membeli dalam jumlah besar selama periode diskon tersebut. Hal ini dilakukan mereka demi menutupi permintaan pada periode mendatang. Alhasil, pembelian masif selama periode promosi yang diikuti dengan pesanan dalam jumlah kecil setelahnya justru menghasilkan variabilitas dalam rantai pasok.

Perilaku pelaku rantai pasok

Perilaku dari para pelaku rantai pasok juga menjadi permasalahan yang berpengaruh besar terhadap adanya distorsi informasi. Masalah-masalah ini terkait dengan struktur dan komunikasi yang terjalin antar tahapan dalam rantai pasok. Bentuk-bentuk hambatan perilaku yang sering kali memperkuat kendala koordinasi dalam rantai pasok adalah :

  1. Setiap tahap rantai pasok hanya melihat hasil tindakan mereka secara lokal dan tidak dapat melihat dampak yang terjadi pada tahapan selanjutnya.
  2. Adanya kecenderungan untuk bereaksi terhadap situasi lokal mereka daripada mencoba mengidentifikasi akar penyebab permasalahan yang terjadi pada aliran rantai pasok.
  3. Tahapan rantai pasok yang berbeda saling menyalahkan antar pihak atas fluktuasi yang ada.
  4. Tidak ada tahapan rantai pasok yang belajar dari tindakannya dari waktu ke waktu. Alhasil, mereka terjebak dalam siklus yang serupa, dimana tindakan yang diambil oleh satu tahap menciptakan sebuah masalah sehingga memicu adanya sikap saling menyalahkan.
  5. Kurangnya kepercayaan antar mitra rantai pasok. Perilaku ini menyebabkan para pelaku rela mengorbankan kinerja rantai pasok secara keseluruhan, contohnya yaitu ketika informasi yang tersedia pada tahap yang berbeda tidak lagi dibagikan atau bahkan diabaikan karena kurangnya kepercayaan antara satu dengan yang lain.

Referensi

Chopra, S., & Meindl, P. (2016).  Supply Chain Management: Strategy, Planning, and Operation, 6th edition. Pearson Education.

More To Explore